Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Parenting

Catatan Kecil dalam Mendidik Anak

Ada seorang sahabat, pengantin baru yang alhamdulillah tanpa menunggu lama telah diamanahi kehamilan, mari kita doakan semoga beliau dan suami serta anak yang dikandung senantiasa dalam lindungan dan pertolongan Allah. Sahabat saya ini tengah semangat-semangatnya menyiapkan bekal untuk menjadi orang tua terbaik, semoga Allah Swt. mengabulkan apa yang ia cita-citakan. Sahabat di atas mengirimi saya tulisan dari seorang blogger , tema tulisan berkenaan cara mendidik anak, tulisan tersebut cukup menginspirasi, namun rupanya isi tulisan masih menyisakan kegelisahan di benak sahabat saya. Melalui tulisan ini saya mencoba berbagi sudut pandang berkenaan tema tersebut, semoga bermanfaat. Anak dan “Menjadi Orang Tua” Banyak ahli psikologi yang berbeda pendapat terkait rentang usia sehingga seseorang bisa disebut anak. Saya tak akan mempermasalahkan hal ini lebih jauh karena saya merasa ada hal lain yang lebih penting dibanding hal ini, pembahasan anak “mau jadi apa” saya rasa lebih men...

Pendidikan Remaja untuk Penyiapan Generasi Bangsa

Dewasa ini banyak terlihat fenomena kenakalan remaja, ketika ditelaah lebih lanjut apakah ada istilah mengenai kenakalan anak atau kenakalan dewasa? Jika ada maka istilah tersebut masih kalah populer dengan istilah kenakalan remaja. Ketika kita mengetik keyword “kenakalan remaja” di internet maka akan bermunculan berbagai artikel, berita, kasus, informasi, makalah dan penelitian yang berbicara tentang masalah tersebut. Membahas tema mengenai kenakalan remaja memang tidak akan pernah kehabisan bahan karena masa remaja dikenal sebagai masa khusus yang kompleks dan penuh gejolak. Masa remaja adalah masa di mana seorang anak mengalami masa pertumbuhan paling pesat. Terlihat dari perkembangan biologis yang kompleks dalam hal ukuran tubuh, fisiologis tubuh, kematangan seksual di mana kesemuanya mengalami percepatan. Karena akselerasi pertumbuhan dan perkembangan pada fase ini, maka remaja dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ketika seorang remaja gagal dalam menyesuaik...

Guru Dilarang Gagap Media

PADANG - Tidak hanya remaja, para guru juga dilarang gagap media. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Anies Baswedan, menilai, guru wajib melek media massa agar pengetahuan mereka dapat ditularkan kepada murid di sekolah. "Tidak ada pilihan. Hari ini kita banjir informasi. Sebelum pelajar melek media, dimulai dari guru terlebih dahulu," kata Anies di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Senin (15/6/2015). Anies menyampaikan hal itu pada pencanangan Gerakan Nasional Remaja Melek Media di Auditorium Gubernur Sumbar. Gerakan ini diparakarsai oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Menurut Anies, guru harus membekali diri dengan kemampuan mengakses, menganalisa, memilih dan memilah sampai menciptakan informasi dan media. "Jika guru tidak membaca, maka jangan harap siswa akan membaca. Kalau guru tidak menulis, jangan harap siswanya akan menulis," ujar dia. Anies mengimbuhkan, semua pengetahua...

Ingin ASI Banyak? Makan Makanan Ini

Selain untuk kesehatan ibu setelah melahirkan, nutrisi yang mencukupi juga dibutuhkan bayi sebab akan memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI. Misalnya, makanan yang kaya zat besi karena ibu kehilangan banyak darah saat melahirkan dan asupan berkalsium agar produksi ASI tetap lancar. Nah, berikut ini adalah pilihan makanan yang tepat usai melahirkan: 1. Produk susu rendah lemak Beberapa produk susu rendah lemak seperti yoghurt, susu, atau keju  dapat membuat produksi ASI lebih banyak. Makanan ini juga mengandung protein, vitamin B, dan vitamin D serta sumber kalsium terbaik yang dapat membantu perkembangan dan pertumbuhan tulang bayi. 2. Telur Telur adalah kombinasi sempurna dari lemak dan protein yang diperlukan wanita dalam diet sehat setelah melahirkan. Telur bisa membantu menjaga tubuh tetap kuat dan baik untuk perkembangan otak bayi. 3. Ikan salmon Ikan salmon bagus untuk otak dan saraf bayi karena mengandung asam lemak Omega-3. Ikan salmon juga baik un...

Cara Positif Menanggapi Cita-cita Anak

Setiap anak tentu memiliki cita-cita, mulai dari keinginan menjadi dokter atau pilot, sampai sesuatu yang kedengarannya "lucu" seperti menjadi pohon. Apa pun cita-citanya, dorong anak agar terus mengembangkan dirinya. Beragamnya cita-cita anak merupakan sesuatu yang wajar karena imajinasi yang dimiliki anak berbeda-beda. Pada usia anak-anak, mereka juga belum mengetahui bakat dan minatnya. “Ada yang usia tiga tahun sudah tahu cita-citanya apa,  tapi ada pula yang sudah SMA belum tahu mau menjadi apa.  Tak ada patokan usia yang jelas,” ungkap psikolog anak Ratih Zulhaqqi. Menurut Ratih, kebanyakan anak mampu menetapkan cita-citanya mulai usia 15 tahun. Di usia tersebut mereka mulai mengetahui minat dan bakatnya. Cita-cita yang kerap berganti-ganti juga sering dialami anak, ini biasanya terjadi karena pengaruh metode belajar dan apa yang dilihatnya dari lingkungan sekitar. "Ada yang orang tuanya dokter, anaknya juga ingin menjadi dokter, d...

Belajar Menerima Kekalahan Sejak Kecil Lebih Bahagia Saat Dewasa

Penting bagi anak-anak untuk memiliki kemampuan mengatasi kekalahan dan kekecewaan. Semua orangtua tentunya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Ingin anak sukses dan bahagia. Namun untuk menjadi orang dewasa yang bahagia, anak-anak harus belajar menerima kekalahan dan mengatasinya. Sebagai orangtua, tugas Anda adalah mendampingi mereka dalam menjalani proses tersbut. Ada tiga hal yang menjadi alasan mengapa latihan menerima kekalahan harus dilakukan sejak dini. 1. Kita tak selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkan Seberapa pun kerasnya usaha anak Anda untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, upaya tersebut takkan selalu berbuah manis. Berusaha maksimal untuk mendapatkan apa yang diinginkan memang sah saja. Namun kita juga perlu menekankan pada anak bahwa hasilnya bisa bermacam-macam kadang tak sesuai harapan. Nah, menjadi tugas orangtua untuk membantu anak mengatasi situasi ini dengan cara konstruktif. Orangtua harus bisa melatih anak kapan harus mundur dan membiarkan s...

Belajar Cari Kerja dari Anak TK

Sepertinya pelajaran di taman kanak-kanak (TK) hanya bermain, bermain dan bermain. Siapa sangka, ternyata kita bisa belajar dari berbagai permainan anak TK itu; salah satunya dalam mencari kerja. 1. Maaf dan terima kasih Sikap dan perilaku sangatlah penting. Ketika banyak orang berlomba-lomba meraih posisi lowong di sebuah perusahaan, siapa yang akan dipilih? Kandidat yang baik dan sopan selama keseluruhan proses, atau mereka yang seenaknya? Seperti yang kita pelajari di masa TK, kita perlu bersikap baik dan sopan kepada orang lain jika ingin mereka memperlakukan hal yang sama kepada kita. 2. Jangan menyerah Guru TK akan terus menyemangati muridnya yang kesulitan menyelesaikan sebuah tugas. Sang guru akan memotivasi siswanya dengan kata-kata positif yang membuat murid tersebut tidak terlalu frustrasi dan melanjutkan pekerjaannya. Kita akan menemukan banyak tantangan dan hambatan dalam pencarian kerja. Tetapi ingat saja, ada banyak orang yang dapat mendukung kita melalui pro...

Cara Sopan Menegur Anak

Sama halnya seperti orang dewasa, anak-anak butuh cara-cara yang sopan untuk ditegur ketika membuat kesalahan. Dengan cara yang sopan, anak akan merasa dihargai dan tidak dipermalukan. Butuh teknik sendiri dan kesabaran untuk menegur anak secara sopan seperti yang dijelaskan berikut ini: Jangan bernada tinggi Maksud hati bersikap tegas dan membuat anak jera, menegur anak dengan nada yang tinggi malah membuat anak merasa tidak terima dan akan menirukan cara anda berteriak. Mungkin awalnya anak akan merasa takut, namun lambat laun akan muncul perasaan dendam dari diri anak sehingga ia akan melampiaskan ke teman sebayanya. Jangan menegur di depan umum Menegur anak di depan umum akan menjadi pengalaman terburuk bagi anak. Anak akan merasa dirinya dan semua orang di sekitarnya telah tahu bahwa ia gagal sehingga ia takut untuk mencoba. Menegur di depan umum juga akan meninggalkan trauma tersendiri bagi anak. Jangan menggunakan kata-kata negatif Jangan pernah me...