Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Bahasa Kalbu

Untuk satu nama Yang hampir pupus ditelan masa Yang hampir memudar terhapus luka Dengarkan hati ini ingin berbicara Dengarkan gerak tubuh ini berbahasa Mewakili bibir yang bungkam tak bersuara Dibalik kerinduan ku ukir lagi nama itu Aku tak membiarkannya memudar ataupun hilang Tapi kau tak jua tahu Kau tak jua menyadari perasaan ini Jika memang harus aku menyimpannya Aku akan selalu menyimpannya untukmu Dalam... Dalam dilubuk hatiku... Sampai saatnya nanti sang waktu akan bicara Dan berkata pada hati kecilmu by Nimut MsaDpan

Dengan Nama-Nya

Pagi ini dingin kembali menyelimutiku Dalam kesunyian aku tersungkur Mencoret kertas putihku dengan tinta warna temaram Lalu terucaplah harapan diujung bibirku Agar sang mentari menemaniku disini Memberiku satu kehangatan dibalik sorot cahayanya Agar raja alam itu membuka hari baruku Dan melukis keindahan dalam hidupku seperti warna jingganya Embun gugur seolah memberi harapan Membawa habar dalam sejuk butirnya Seolah berbisik menyampaikan salam sang raja alam Hari ini akan indah jikaku mulai dengan menyebut nama Tuhan by Nimut MsaDpan

Cahaya KecilMu

Aku menuang satu renungan hari ini Renungan yang bahkan diriku pun belum mengerti Aku menulis satu kisah hari ini Namun sampai kini aku tak tahu ujung yang ku cari Lagi... Ku lakukan lagi Berulang-ulang Hingga jenuh menghampiri Hingga terucap satu keluh yang menyesak dihati Aku diam, seperti mati Aku terus melangkah meski tak pasti Ku cari celah kecil berharap satu motivasi Aku menangis meraung keras, namun taka da yang memahami Aku berlari hingga terjatuh, namun taka da yang menghampiri Aku sendiri Aku tak berkawan disini Hanya sepi Hanya air mata dipipi Ku usap Ku letakkan satu harap lagi meski ragu menemani Ku lihat ada cahaya disini Aku bergera mendekati Cahaya itu datang lalu tersenyum dan berkata aku tak sendiri Dia berdiri tegap dihadapanku mengajakku bangkit dan melangkah lagi Dialah cahaya kecil milik Ilahi by Nimut MsaDpan

Serpihan Kenangan

Ini belum berlalu... Apanya...? Sungguh tak tau akan itu Terasa gelap tanpa cahaya Atau mungkin mati lampu Hanya ada diriku dan kenanganku Sendiri tapi tak pernah sepi Karena sinyal Hape ku penuh Pernahkah kau sadari Tak kan Kembali Secangkir kopi manismu Yang slalu kuingat Tak lewat kata tapi lewat rasa Yang larut dalam hangatnya malam Serta bersanding dalam indahnya bulan Taukah kau...? Apa yang Ku Rasakan Semua hanya tinggal kenangan Aku... masa laluku... Dalam tarian kegalauanku Terpisah oleh ruang dan waktu Algojo setia antara kita Yang mencumbuku di setiap malam Hadir dalam hari-hariku Laksana bintang yang melengkapi malam Yang mengurai kisah dalam lautan cintamu Duhai kau kenangan Rahman... Hanya engkaulah yang tau by Aliffiadi Fuazhim F. dan Abu Fiqr kelompok 7 FLP UIN Maliki Malang

Kidung Senja di Langit MSAA

Siang mulai beranjak Mentaripun kembali berlindung dalam pangkuan angkasa Menyisakan semburat-semburat jingga yang mempesona Senja... Ya, senja yang kusuka Senja diatas langit MSAA Menikmatinya... Menjadi fase terindah dalam poros hidupku Mengamati mujahid-mujahid cinta kembali dari laganya Bersiap diri menghadap dan bercengkrama dengan Sang Kekasih Abadi Dalam indahnya istana Sang Maha Suci Diiringi senandung kalam-kalam Illahi Kutatap langit... Semburat jingga itu memerah Indah... Berhiaskan burung-burung kecil Terbang... Berlomba dengan angin yang menerpa hijabku Untuk kembali pada istana kecilnya Ternyata... Tak hanya langit yang kutatap Karena lensa hati ini Menangkap sosok bersarung Dengan sorban putih melingkar dipundaknya Bercahaya... Dengan mushaf tergenggan erat padanya sembari berkata "Izinkan aku menyimak hafalanmu, dan menjaga hati penghafalnya" Pipiku memerah Meny...

LUKA

Ayah... Anakmu yang satu ini, ingin menangis dipelukanmu... Sekadar mengeluh atas semua hal yang menuntut kesempurnaa... Aku jengah dengan segala peraturan,tugas,dan semua hal yang mengikatku... Rapat! Ibu... Aku lelah menjadi putrimu yang penurut... Aku imgin kalian menghawatirkanku... Lalu daim-diam hadir dihadapan mataku... Ai... Anakmu yang satu ini ingin handphone itu berdering, Tanpa aku minta kalian menelfonku sebelumnya... Ai... Aku lelah menjadi putrimu yang kuat... Sekali saja Ai... biarkan keegoisan ini yang bicara.. Ibu... Kapan aku terakhir memelukmu? Aku rindu... Aku lelah... Ada kalanya aku jatuh,rapuh,dan lumpuh... Kapan terakhir aku bisa memeluk kalian berdua? Ya... 17 tahun yang lalu... aku rindu...SUNGGUH!!! Aku tak marah Ai,.. Aku tau itu bukan kesalahan, itu pilihan... Perpisahan kalian adalah pilihan terbaik... dan aku? Aku harus tetap menjadi AKU... Penurut, manis, dan...

Gelap Menjadi Terang

Dulu aku sangat gelap Tanpa cahaya gemerlap Sungguh hati ini telah mati Seolah-olah berada di dalam peti Tapi hati nurani bisa berdoa Inginkan cahaya hidayahNya Di tengah itu ada bintang surga Hadir membawa cahaya Perantara hamba ahli surga Ikhlaskan berbagi cahaya Hingga... Hati yang gelap menjadi terang Hati yang mati hidup kembali Menang dalam perang Hawa nafsu yang tak terkendali Oh, terima kasih Tuhan Atas jalan ini Akhirilah aku Dalam keadaan khusnul khotimah by Fitria kelompok 2 FLP UIN Maliki Malang

Assalamu'alaikum Cinta

Assalamualaikum Cinta Sudahkah aku mencintaimu? Ajari aku cinta Cinta yang sebenar-benarnya cinta Cinta yang dilandasi permadani ketulusan Dibalut sutra keikhlasan Tahukah kau... kini aku belajar Belajar mengelola rasa Belajar menjaga hati Ruang hati ini Kupersiapkan hanya untukmu Kau pemegang kunci surgaku Kau rahasia terbesar dalam hidupku Kau ayah dari anak-anakku Kau, apakah kita pernah bertemu? Izinkan aku memperdalam ilmuku Memperkuat agamaku Bila saat itu tiba Aku telah siap untuk kau miliki Dan kau siap untuk bersamaku Kita pasti dipertemukan dengan cara terindah Milikilah aku sesuka hatimu Kini aku belajar menjadi wanita sempurna Meski kutahu aku beginilah adanya Bukankah sebaik-baik wanita adalah wanita sholihah? Aku ingin menjadi wanita yang tak hanya sholihah, tapi juga cerdas dan berilmu Ilmu yang memperluas cakrawala berpikirku Paling tidak bisa membuatmu bangga padaku Ilmu yang dengannya aku ...

Jenis-jenis Puisi

Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru Puisi Lama Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain : Jumlah kata dalam 1 baris Jumlah baris dalam 1 bait Persajakan (rima) Banyak suku kata tiap baris Irama Ciri puisi lama: Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya. Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan. Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima. Puisi Baru Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Ciri-ciri Puisi Baru: Bentuknya rapi, simetris; Mempunyai persajakan akhir (yang teratur); Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain; Sebagian besar puisi empat seuntai; Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis) Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

Pertengahan Maret

Biarpun ada tawa tak biasa dari senyum yang lain Bahagia di atas sedih yang lain terinjakpun, terkekeh sampai gelap malam ini sebuah kehidupan Roda akan berputar Kesabaran di atas semua itu Bahwa hidup terus di jalani Apapun bentuknya Aku tetap senyum :) Karya : Widya Lintang

Aku adalah Pemenang

AKU adalah seorang PEMENANG! Pasti kamu bertanya? kok bisa? AKU salah satu dari segerombolan sperma sejumlah 250 juta, yang bersaing membangunkan sel telur yang sedang tidur manis. Tapi, hanya 1 yang bisa membangunkan sang putri dan mengawininya, yaitu AKU! AKU bisa mengalahkan 249.999.999 sperma AKU berhasil mengawini sel telur AKU tidak akan terlahir di dunia. Jika AKU kalah. Jadi, bersyukurlah telah terlahir di dunia. Karya : Arief Harie Hadie

Bidadariku

Dalam kesejukan angin senja Ku menunggu penuh harapan Di beranda rumah indahmu Diiringi kicauan burung pipit Maafkan bila sejak jumpa pertama Saat lihat tatapan mata nan indah Ternyata menjadikan sejuta rasa Yang tak mampu terucap kata-kata Mengalir berjejal memenuhi rongga dada Dan rasa rindu yang meronta-ronta Kini, rasa itu kian hadir menyapa Bersemayam dan bertahta dalam jiwa lemah ini Mungkin hanya cita-cita anak desa Tuk miliki sosok cantik nan jelita Tuk merajut keindahan bersama Ku hanya insan manusia yang sederhana Terbatas rupa dan harta benda Hanya bermodal kuat iman dan taqwa Kemuliaan akhlak dan janji tuk setia Dan berbekal ilmu meski tak seberapa Ku hanya menyapamu biasa saja Seraya menitip salam dengan senyuman Tuk hanyut dalam dekapanmu Di setiap shalat malam tiba Dan hari-hari sepanjang sisa hidupku Ingin ku raih semua cita-cita Bersama gadis indah nan mempesona Yang kujadikan sebagai berlian yang bersinar Membuat hidup lebih bercahaya Meski hanya bait-bait puisi Kelak...

Menunggu

Aku yang termenung di sudut taman Diam membisu tak bersua Ingin menanti sebuah jawaban Tidak tahu apa ia tahu Yang kuingin hanya satu Andai benar harapan itu, alangkah bahagia diri ini Niat dan usaha sudah ku lakukan Untukmu, aku selalu ada disampingmu Suatu saat dirimu akan tahu Apa yang tersimpan dalam hatiku Namun, apalah arti semua ini Tidakkah semua itu berbuah manis Aku hanya manusia yang lemah Rasa ingin memilikimu sangat besar Anganku hanya akan jadi impian yang tak pasti Malang, 2 April 2013

Pagi Hari

Sinar mentari telah bersinar terang Kicauan burung mulai menggema Dedaunan kelihatan segar kembali Angin perlahan mulai berhembus Hamparan rumput yang menghijau Aku merasa terlahir kembali Embun pagi yang menyejukkan raga Tuk jalani aktivitas seperti semula Jangan ragu tuk melangkah Lihatlah ke depan, kita songsong masa depan Jangan pernah lihat ke belakang Jika tidak mau langkah kita terhenti Jadikan masa lalu sebagai cermin Tapi, jangan berlama-lama Hanya sekedar pengingat untuk kita Bila ingin segera menuai kesuksesan Jangan menunda lagi Segeralah berlari namun pasti Sambut masa depan bersama mentari pagi Lihatlah tanah yang kau pijaki Tiap langkahmu sangat berarti Masa depan yang kau lalui Tak ada yang tahu Berikan yang terbaik tuk masa depanmu Ciptakan prestasi yang gemilang Raihlah semua asamu Jangan berhenti tuk berusaha Jadilah pribadi yang kokoh Tanpa mudah menyerah Awali pagimu dengan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna Nganjuk, 31 Maret...

Bekal Diri

Petunjuk dan rahmat Allah selalu menjadi lentera siang dan malam Jalin silaturahim ciptakan ukhuwah islamiyah sebagai pigura Dilandasi ketakwaan tinggikan derajat seperti menara Keikhlasan selalu menghiasi langkah kita berjalan Persiapkanlah bekal untuk akhirat wahai saudara Mumpung masih ada waktu tuk menghirup udara segar Tingkatkanlah amal kebaikan sebelum menuju pusara Raih keridhaan Allah sebelum membujur ke utara Nganjuk, 5 Maret 2012

Cerita Cinta part II

Ketulusannya tembus di relung derita Meski dihujani radang dan kusta Bertubi hadir berjejal virus berjuta Ia akan tetap sebagai duta Saat digelitik bayanganmu nan jelita Ia akan segera hujamkan senjata Menjadi benteng pilar besi baja Sebab hitam putih kau dan beta Kuingin terikat dengan permata Sebagai pertanda gunting pita Walau sederhana tak ada pesta Meski cengkrama tanpa wisata Rasa kuabadikan seperti juwita Kelak melindungi sebagai gurita Membuahkan intan sebagai cinta Untuk lanjutkan perjuangan anggota Rasa tak bergeming hingga tua renta Sebab bukan sekedar nafsu semata Namun, anugerah sang khalik alam semesta Tak terbatas dimensi waktu dan kasta Nganjuk, 10 Februari 2012

Cerita Cinta part I

Ketika hati tak bisa berdusta Bibir tak dapat lagi tuk berkata Tak jua mampu terelakkan mata Semua diserang dengan pukul rata Sosok itu tak memandang harta Ia tak lagi menghiraukan tahta Tepiskan lekuk-lekuk akan kasta Berjalan cuek walau beda strata Meski ia keliahatan sepertinya buta Namun memadukan rama dan shinta Hanya mengangga adanya diri kita Serasa keindahannya di pantai kuta Ia hadir membuat pikiran jadi tersita Rasa berdebar rindu meronta-ronta Tidur, makan nasibnya terlunta-lunta Menyisakan rasa yang mengalunkan gita Meski sesak bersama dalam kereta Hanya akrab dengan roti dan pasta Semua indah serasa suasana delta Tanpa hiraukan kejamnya ibu kota Saat bersemi sarat kabar berita Menjejal dan berkutat dalam goresan tinta Romantika rasa tersave dalam data Semua menghiasi beribu cerita Namun, ia bisa ternodai oleh nista Bergulat bagaikan hewan melata Menggeliat manja bak sosok balita Nganjuk, 7 Januari 2012...