Langsung ke konten utama

Tanda-tanda Cara Berjalan Anda Salah

jalan kaki

Cara berjalan ternyata ikut berpengaruh pada postur tubuh dan kesehatan organ-organ vital. Sayangnya, seringkali kebiasaan jalan yang salah tidak disadari. Nah bagaimana untuk mengetahui cara jalan yang kita lakukan sudah benar atau belum?

Penemu metode Rahasia Berjalan Alami (RBA) Effendi mengatakan, benar atau tidaknya cara berjalan dapat dilihat oleh profesional. Namun ada beberapa indikator yang bisa dijadikan patokan oleh awam untuk mengetahui apakah cara berjalannya sudah tepat atau belum.

Indikator-indikator tersebut antara lain:

- Ketidakseimbangan antara kaki kiri dan kanan. Misalnya terjadi pincang atau tidak lurus saat berjalan. Cara paling mudah untuk mengetahuinya adalah sepatu yang cepat aus di satu sisi.

- Bentuk kaki O atau X. Bentuk kaki ini memang terkadang disebabkan oleh penyakit, namun cara berjalan juga dapat mempengaruhinya. "Namun jika disebabkan oleh cara berjalan yang salah, gangguan ini bisa diperbaiki," ujar master di bidang sains California State University ini.

- Pinggul terlalu menjorok ke kanan dan kiri saat berjalan. Cara jalan seperti ini, kata Irmansyah, dapat memberi tekanan terlalu besar pada lutut maupun tumit sehingga mudah menyebabkan cidera.

- Terdapat gangguan di kepala, pinggang, punggung, panggul.

Irmansyah menjelaskan, gangguan pada bagian-bagian ini erat kaitannya dengan kebiasaan berjalan. Namun memahami cara berjalan yang salah setelah adanya gangguan, menurut dia, artinya sudah terlambat. Meski begitu memperbaiki cara berjalan tetap dapat dijadikan terapi.

Cara berjalan yang salah, terangnya, dipengaruhi pula dari alas kaki yang digunakan. Penggunaan alas kaki yang terlalu tipis, hak sepatu terlalu tinggi tinggi atau yang terlalu empuk bisa menimbulkan gerakan kaki yang tidak tepat sehingga rentan cidera.

"Cara berjalan juga dipengaruhi oleh kebiasaan orangtua. Karena anak cenderung meniru segala yang dilakukan orangtuanya," katanya.

Postingan populer dari blog ini

3 Golongan Besar Umat Islam

Ada tiga tipe umat terkait sikap mereka terhadap Alquran: dhalimun linafsih, muqtashid, dan saabiq bil khairaat. (1) Dhalim linafsih : Artinya orang yang menganiaya diri sendiri, yaitu mereka yang meninggalkan sebagian amalan wajib dan melakukan sebagian yang diharamkan. Seperti, orang menjalankan salat tetapi korupsi, menjalankan saum Ramadan tetapi suka riya, pergi salat Jumat tetapi menggunjing orang, membayar zakat tetapi menyakiti tetangga, membelanjai istri tetapi juga menyakitinya, berhaji tetapi menzalimi karyawan. Pendek kata, dhalimun linafsih adalah orang yang terpadu dalam dirinya kebaikan dan keburukan, yang wajib kadang ditinggalkan, yang haram kadang diterjang. (2) Muqtashid : Artinya orang pertengahan, yaitu mereka yang menunaikan seluruh amalan wajib dan meninggalkan segala yang haram, walau terkadang masih meninggalkan yang sunah dan mengerjakan yang makruh. Seluruh kewajiban ia penuhi, baik kewajiban pribadi (seperti salat, zakat, puasa, dan haji) maupun kewajiba...

Pengumuman Hasil Seleksi Mahasiswa Baru UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jalur SBMPTN 2015

Pengumuman Hasil Seleksi Mahasiswa Baru UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jalur SBMPTN 2015 dapat didownload disini: Klik disini (utama) Klik disini (mirror)

Berbuat Baik Terhadap Orang Lain

Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan juga demikian, dan kebaikan itu juga sebaik perilakunya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua perbuatan itu adalah mereka yang melakukannya hal tersebut. Mereka akan merasakan buahnya seketika itu juga di dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga mereka pun selalu lapang dada, tenang, serta merasa tenteram dan damai. Ketika kita diliputi kesedihan dan kegalauan dalam hidup, maka berbuat baiklah terhadap sesama, niscaya akan mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati. Dengan cara, sedekahilah orang yang fakir, tolonglah orang yang terdzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit, dan bantulah orang yang terkena musibah, niscaya kalian akan merasakan kebahagiaan dalam semua kehidupan yang kalian jalani. Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya...