Langsung ke konten utama

Dapatkan Efek Terapi dari Cara Berjalan yang Benar

terapi jalan

Bagi kebanyakan orang, berjalan merupakan kegiatan fisik sederhana untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tak banyak orang yang memikirkan bagimana cara berjalan yang tepat. Padahal, cara berjalan juga berhubungan dengan pembentukan postur tubuh dan kesehatan organ-organ vital.

Cara berjalan yang benar bahkan dapat memberikan manfaat terapi. Penemu Rahasia Berjalan Alami (RBA) Irmansyah Effendi mengatakan, saat berjalan rangsangan meridian dan refleksi dapat melepaskan hambatan-hambatan, meningkatkan peredaran, sehingga meningkatkan kemampuan alami dari organ-organ tubuh terkait.

"Apabila kita menggerakan kaki kita dengan benar, setiap kalinya kita dapat merangsang meridian dan titik-titik refleksi pada tubuh kita untuk mendapatkan manfaat-manfaat yang positif," terangnya dalam konferensi pers pelatihan RBA, di Jakarta.
Pelatihan cara berjalan yang tepat aktif dilakukan oleh Irmansyah melalui seminar-seminar.

Ia menuturkan, dalam RBA, sebuah langkah dibedah menjadi beberapa tahapan yang masing-masingnya terdiri dari banyak gerakan kecil. Ia pun menjelaskan adanya enam kunci dari RBA  sebagai berikut.

1. Meletakkan tumit di lantai

Ini merupakan langkah pertama dalam berjalan yang seringkali salah dilakukan. Peletakkan tumit tidak boleh terlalu jauh dari kaki lainnya dan ujung kaki tidak diangkat terlalu rendah. Lutut pun seharusnya tidak dikunci. Ini demi menghindari cidera karena beban tubuh ditumpu di titik tersebut.

2. Menapakkan kaki

Cara menapakkan kaki merupakan hal yang penting karena pada saat ini kaki memberikan pompaan yang bisa memberikan terapi pada tubuh. Cara yang paling tepat melakukannya adalah secara penuh dan lurus pada telapak kaki yang diayun di lantai.

3. Memindahkan berat tubuh

Berat tubuh yang semula bertumpu pada kedua kaki mulai dipindahkan ke kaki yang berada di depan. Pastikan berat tubuh berpindah secara lurus dan tegap, kepala tidak menunduk. Sementara itu, kaki lainnya bertumpu pada ujung kaki.

4. Merasakan rangsangan meridien pada titik-titik refleksi otot.

Kunci ini bisa diterapkan saat melakukan latihan khusus untuk terapi RBA. Para pelaku RBA menyebutkan sebagai "penyesuaian".

5. Melepaskan berat tubuh

Yang dimaksud dengan kunci ini adalah melepaskan berat tubuh pada kaki lainnya. Kaki lainnya perlu diayunkan, namun jangan terlalu tinggi sehingga paha tidak mengangkat. Ayunan juga harus lurus dengan lutut tidak melebar ataupun masuk.

6. Langkah ke depan lagi

Ini merupakan kunci yang hampir sama dengan kunci pertama yang dilakukan dengan kaki yang lainnya.

Postingan populer dari blog ini

3 Golongan Besar Umat Islam

Ada tiga tipe umat terkait sikap mereka terhadap Alquran: dhalimun linafsih, muqtashid, dan saabiq bil khairaat. (1) Dhalim linafsih : Artinya orang yang menganiaya diri sendiri, yaitu mereka yang meninggalkan sebagian amalan wajib dan melakukan sebagian yang diharamkan. Seperti, orang menjalankan salat tetapi korupsi, menjalankan saum Ramadan tetapi suka riya, pergi salat Jumat tetapi menggunjing orang, membayar zakat tetapi menyakiti tetangga, membelanjai istri tetapi juga menyakitinya, berhaji tetapi menzalimi karyawan. Pendek kata, dhalimun linafsih adalah orang yang terpadu dalam dirinya kebaikan dan keburukan, yang wajib kadang ditinggalkan, yang haram kadang diterjang. (2) Muqtashid : Artinya orang pertengahan, yaitu mereka yang menunaikan seluruh amalan wajib dan meninggalkan segala yang haram, walau terkadang masih meninggalkan yang sunah dan mengerjakan yang makruh. Seluruh kewajiban ia penuhi, baik kewajiban pribadi (seperti salat, zakat, puasa, dan haji) maupun kewajiba...

Pengumuman Hasil Seleksi Mahasiswa Baru UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jalur SBMPTN 2015

Pengumuman Hasil Seleksi Mahasiswa Baru UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jalur SBMPTN 2015 dapat didownload disini: Klik disini (utama) Klik disini (mirror)

Manfaatkan "Smartphone" untuk Tidur Sehat

  Semua orang masa kini tahu bahwa denyut kehidupan modern sering kali mengganggu tidur. Keseharian yang serba cepat, tekanan ketepatan dan hubungan antar personal saling tumpang tindih membuat kita terlalu tegang untuk tidur. Ini semua diperburuk dengan internet yang menghubungkan kita sepanjang waktu lewat smartphone. Sebagian orang merasa sayang untuk meninggalkan waktu produktif untuk tidur. Tanpa menyadari bahwa dengan mengurangi tidur justru ia mengurangi produktivitasnya. Sebagian lagi merasa perlu untuk tidur, tetapi seolah butuh perjuangan ekstra untuk terlelap. Ada juga yang dengan mudahnya tidur, tetapi pada jam tertentu harus bangun untuk buang air kecil atau hanya 'melek' saja. Akibatnya, banyak orang bangun dengan perasaan kacau, dan tak bersemangat. Beranjak siang beban utang tidur mulai menyerang dan mengganggu produktivitas. Sekedar untuk berkonsentrasi, perlu berulang kali mengambil waktu untuk menghirup nikotin. Menjelang sore, kantuk seolah tak tertahan...