Langsung ke konten utama

Gulungan Ombak Setinggi 7 Meter Ada di Pulau Asu

selancar

NIAS BARAT – Obyek wisata air dan pantai juga ada di Pulau Asu yang berada di wilayah Kecamatan Kepulauan Hinako, Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara. Untuk mencapai ke sana, Anda dapat menggunakan pesawat dari Bandara Kuala Namu di Medan menuju Bandara Binaka di Gunung Sitoli. Dari Gunung Sitoli Anda melanjutkan perjalanan ke Kota Sirombu dengan menempuh waktu perjalanan kurang lebih 2 jam.

Dari Sirombu ada dua pilihan untuk menuju ke obyek wisata Alam Pulau Asu. Anda dapat menumpang kapal reguler atau menggunakan speed boat. Jika Anda memilih menggunakan kapal reguler, Anda hanya membayar sekitar Rp 50.000 per orang dengan waktu tempuh 2 jam hingga sampai Pulau Asu. Jika Anda memilih untuk menggunakan speed boat, Anda hanya memerlukan waktu 40 menit dengan biaya Rp 150.000 per orang.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, Yamonaha Waruwu, mengatakan bahwa Pulau Asu berada di sebelah barat Kabupaten Nias Barat berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan termasuk pulau terluar Kepulauan Nias. “Luas Pulau Asu kurang lebih 18 kilometer persegi saat ini dihuni oleh 28 kepala keluarga. Pulau Asu ini jauh dari kemewahan namun wisatawan mancanegara merasa nyaman dan aman tinggal di Pulau Asu,” Kata Waruwu, Kamis (9/10/2014).

Di Pulau Asu ini, airnya jernih serta butiran pasir yang putih ditambah nyiur pohon kelapa berpadu dengan irama ombak menjadi daya tarik tersendiri. “Para wisatwan bisa bertahan di Pulau Asu selama 1 sampai 2 bulan karena Pulau Asu memiliki ombak dengan tinggi 4 sampai 7 meter dan panjang ombak mencapai 200 meter,” jelasnya.

Oleh karena itu banyak wisman datang ke Pulau Asu untuk berselancar. Pulau Asu juga terkenal dengan keindahan bawah laut dengan berbagai jenis terumbu karang dan beragam jenis ikan. Salah satu dampak bencana Alam yang bisa dilihat juga ada di Pulau Asu, masih tersisa puing-puing bangunan yang roboh diterjang tsunami tahun 2004 silam.

Pasca gempa dan tsunami beberapa home stay sudah mulai dibangun dan siap dihuni oleh wisatawan setiap musimnya. Satu hal lagi yang unik di Pulau Asu. Jika kita berjalan menggelilingi Pulau Asu dengan mengikuti garis pantai, maka di sepanjang pantai kita akan akan menemukan daun subang-subang (scaveola tacada), penduduk lokal menyebutnya daun rafe-rafe. Daun ini dipercaya bisa berfungsi sebagai obat anti diabetes.

sumber : kompas

Postingan populer dari blog ini

3 Golongan Besar Umat Islam

Ada tiga tipe umat terkait sikap mereka terhadap Alquran: dhalimun linafsih, muqtashid, dan saabiq bil khairaat. (1) Dhalim linafsih : Artinya orang yang menganiaya diri sendiri, yaitu mereka yang meninggalkan sebagian amalan wajib dan melakukan sebagian yang diharamkan. Seperti, orang menjalankan salat tetapi korupsi, menjalankan saum Ramadan tetapi suka riya, pergi salat Jumat tetapi menggunjing orang, membayar zakat tetapi menyakiti tetangga, membelanjai istri tetapi juga menyakitinya, berhaji tetapi menzalimi karyawan. Pendek kata, dhalimun linafsih adalah orang yang terpadu dalam dirinya kebaikan dan keburukan, yang wajib kadang ditinggalkan, yang haram kadang diterjang. (2) Muqtashid : Artinya orang pertengahan, yaitu mereka yang menunaikan seluruh amalan wajib dan meninggalkan segala yang haram, walau terkadang masih meninggalkan yang sunah dan mengerjakan yang makruh. Seluruh kewajiban ia penuhi, baik kewajiban pribadi (seperti salat, zakat, puasa, dan haji) maupun kewajiba...

Pengumuman Hasil Seleksi Mahasiswa Baru UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jalur SBMPTN 2015

Pengumuman Hasil Seleksi Mahasiswa Baru UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jalur SBMPTN 2015 dapat didownload disini: Klik disini (utama) Klik disini (mirror)

Manfaatkan "Smartphone" untuk Tidur Sehat

  Semua orang masa kini tahu bahwa denyut kehidupan modern sering kali mengganggu tidur. Keseharian yang serba cepat, tekanan ketepatan dan hubungan antar personal saling tumpang tindih membuat kita terlalu tegang untuk tidur. Ini semua diperburuk dengan internet yang menghubungkan kita sepanjang waktu lewat smartphone. Sebagian orang merasa sayang untuk meninggalkan waktu produktif untuk tidur. Tanpa menyadari bahwa dengan mengurangi tidur justru ia mengurangi produktivitasnya. Sebagian lagi merasa perlu untuk tidur, tetapi seolah butuh perjuangan ekstra untuk terlelap. Ada juga yang dengan mudahnya tidur, tetapi pada jam tertentu harus bangun untuk buang air kecil atau hanya 'melek' saja. Akibatnya, banyak orang bangun dengan perasaan kacau, dan tak bersemangat. Beranjak siang beban utang tidur mulai menyerang dan mengganggu produktivitas. Sekedar untuk berkonsentrasi, perlu berulang kali mengambil waktu untuk menghirup nikotin. Menjelang sore, kantuk seolah tak tertahan...