Ikatan yang paling kokoh dan produktif di antara sesama adalah kasih sayang. Manakala di antara beberapa orang sudah terjalin hubungan kasih sayang, maka persoalan apapun bisa diselesaikan dengan mudah. Contoh yang bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari adalah hubungan antara suami dan isteri, antara orang tua dan anak-anaknya, antara kakek dan cucu-cucunya. Hubungan di antara mereka itu dijalin dengan ikatan kasih sayang sehingga menjadi kokoh.
Ikatan kasih sayang menjadikan orang selalu dekat dan terdorong untuk saling memberi, menggembirakan, menololong, menyelamatkan, membela, dan bahkan rela berkorban. Seorang suami bersedia melakukan apa saja, sekalipun berat, untuk menyenangkan isterinya, dan demikian pula sebaliknya, isteri terhadap suaminya. Orang tua sehari-hari bekerja dengan susah payah, melakukan apa saja untuk mendapatkan biaya pendidikan, adalah oleh karena kecintaannya terhadap anak-anaknya. Seorang kakek sanggup berjalan jauh sekedar untuk melihat cucunya. Kerja keras dan bahkan pengorbanan dilakukan oleh karena didorong rasa kasih sayang itu.
Kasih sayang memiliki kekuatan luar biasa untuk menggerakkan orang, dan tidak terkecuali semestinya untuk menggerakkan pengikut bagi para pemimpin. Pekerjaan terberat seorang pemimpin adalah menggerakkan semua orang yang dipimpinnya. Ada beberapa cara yang biasa digunakan pemimpin untuk menggerakkan pengikut, misalnya dengan peraturan, uang, atau secara paksa atau hukuman. Pendekatan ini, pada kadar tertentu berhasil, akan tetapi seringkali melahirkan produk-produk semu, dan bahkan kemunafikan.
Menggerakkan orang dengan peraturan selalu memerlukan pengawasan dan bahkan juga sanksi. Mereka yang tidak mengikuti peraturan, maka diberikan sanksi atau hukuman. Tentu bentuk hukuman bermacam-macam, mulai yang paling ringan maupun yang paling berat, hukuman berupa psikologis, fisik, sosial, maupun berupa material. Hukuman psikis misalnya dengan cara ditegur atau dimarahi. Hukuman fisik, misalnya disel, dijemur dan seterusnya.
Pemberlakuan peraturan seperti itu biasanya tidak bertahan lama, dan justru melahirkan sikap-sikap manipulatif, formalitas, dan munafik. Perilaku yang serba semu, seolah-olah, seakan-akan dan jenis lainnya yang tidak menyenangkan sebenarnya adalah sebagai akibat dari hubungan yang dibangun dari pendekatan peraturan itu. Resiko yang sama terjadi tatkala menggerakkan orang dengan pendekatan uang. Sementara orang berpikir bahwa dengan uang maka semangat kerja akan semakin meningkat. Memang pada tahap tertentu akan terjadi demikian itu. Akan tetapi biasanya tidak bisa bertahan lama.
Cara berpikir sederhana itu ternyata juga dialakukan oleh pemerintah. Untuk meningkatkan semangat kerja, maka diberlakukan kenaikan gaji, berbagai tunjangan, atau remunerasi bagi para pegawai atau pejabat. Logika sederhana yang dianut, bahwa manakala para pegawai telah dinaikkan kesejahteraannya akan berakibat naik pula semangat kerjanya. Pada masa tertentu, logika itu benar. Akan tetapi, oleh karena perasaan sejahtera itu selalu menuntut bertambah dan meningkat, maka peningkatan tunjangan, remunerasi, dan sejenisnya itu menjadi tidak memiliki arti, manakala juga tidak selalu ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Hubungan antara pemimpin dan pengikut, atau pejabat dengan anak buah, dalam meningkatkan efektifitas organisasi, ternyata tidak cukup hanya dijalin melalui peraturan, uang, atau hukuman. Sekalipun pendekatan itu penting dan bisa dilakukan, tetapi harus diketahui dan disadari bahwa hal itu hanya berlaku sementara. Terjadinya korupsi, penyimpangan, manipulasi di berbagai instansi pemerintah dan bahkan swasta hingga mengakibatkan kebangkrutan, sebenarnya hanya sebagai akibat dari pilihan-pilihan dalam membangun hubungan antara pemimpin dan pengikut yang kurang tepat itu.
Hubungan antar manusia, tidak terkecuali antara pimpinan dan pengikut, agar bertahan lama dan semakin kokoh, semestinya dikembangkan melalui kasih sayang. Bukti kekuatan kasih sayang dalam bentuknya yang nyata, bisa dilihat dari hubungan antara suami isteri, anak dengan orang tuanya, kakek dengan para cucunya. Bahkan hubungan kekerabatan itu menjadi terganggu tatkala diwarnai oleh suasana transaksional. Hubungan kekerabatan sekalipun, tatkala diwarnai saling selalu menghitung-hitung hak dan kewajibannya, maka pecah dan runtuh . Berbeda dengan hal tersebut, manakala hubungan kasih sayang itu berhasil dipelihara, maka ketulusan, integritas, dan bahkan saling berkorban akan bisa diwujudkan.
Pertanyaannya adalah, apakah mungkin hubungan kasih sayang antara pemimpin dan mereka yang dipimpin dikembangkan dan dipelihara ? Pada tataran empirik agaknya memang tidak mudah dicarikan bukti. Sebab pada kenyataannya dalam kehidupan masyarakat sudah lebih berkembang suasana yang serba transaksional itu, bukan saja dalam hubungan pemimpin dan pengikut, kepala dan anak buah, tetapi baru mencalonkan diri sebagai pejabat saja, mulai dari menjadi kepala desa, bupati, gubernur, wakil rakyat dan seterusnya, sudah menggunakan pendekatan berbagai transaksi. Tanpa disadari hal itu berdampak, masyarakat menjadi sakit atau anomali. Demikian pula tatkala hal itu terjadi di kantor-kantor, baik instansi pemerintah maupun swasta.
Islam mengajarkan agar antar manusia saling menjalin hubungan kasih sayang. Tentu hal itu tidak terkecuali antara pemimpin dan mereka yang dipimpin, dan hendaknya berlaku di mana saja. Sifat Mulia Allah, yaitu ar Rakhman ar Rakhiem diulang-ulang di berbagai tempat dalam kitab suci, adalah menunjukkan betapa hal itu seharusnya dijadikan petunjuk dan pegangan bagi siapapun dalam menjalin komunikasi antar sesama. Bahkan lebih jelas lagi, pada ayat yang lain dalam al Qur’an dan hadits nabi, hubungan antar sesama muslim hendaknya dibangun atas dasar kasih sayang dan atau saling mencintai. Budaya Islam adalah budaya kasih sayang. Manakala itu berhasil diwujudkan, tidak terkecuali antara pemimpin dan pengikut, maka di sanalah letak produktifitas, kejujuran, ketulusan, dan bahkan kebahagiaan yang dicita-citakan oleh semua orang. Wallahu a’lam.